Cerita sebelumnya: Thinking Out of The Box
Beberapa bunga matahari bermekaran di pagi hari. Warna kuningnya penuh kecerahan. Kupu-kupu terbang bebas menghampiri. Awan putih bergerak perlahan. Suasananya sangat baik untuk memulai hari dengan semangat. Aku berangkat ke kantor dengan kobaran semangat sebab hari ini adalah hari pertama masuk kerja.
Pukul 6 pagi aku sudah menjemur pakaian, membuat sarapan ala kadar, dan tidak lupa mandi. Ini hari pertamaku berangkat ke kantor setelah beberapa hari hanya menulis opini melalui email sejak diterima. Pandemi membuat banyak perusahaan memilih untuk meliburkan karyawan. Hal ini lumrah dilakukan dalam rangka meminimalisir penyebaran virus. Setelah ada kebijakan dari pemerintah dengan menerapkan prinsip physical distancing, perusahaan tempatku bekerja juga turut mengikuti instruksi tersebut.
Seseorang tiba-tiba menepak pundakku.
“Hei, kamu anak baru ya disini?”
Secara refleks aku menjawab nama ayam.
“A…Ayam. Iya.”
“Pantas saja mukanya terlihat lugu hehe.”
Waktu rapat pun tiba. Pada sesi ini aku diminta memperkenalkan diri. Di dalam ruangan terdapat tiga perempuan dan empat laki-laki. Mereka menyapaku dengan ramah. Aku mengarahkan pandangan ke semua orang yang berada dalam ruangan. Tatapanku tertuju pada seorang perempuan yang menggunakan hijab biru dongker. Aku memandangnya sangat aneh. Semua pandangan tertuju padaku, tapi dia hanya melihat sekilas. Tidak berlama-lama memandangku. Beberapa kali menunduk.
Aku berpikir perempuan tersebut tidak normal. Sangat jarang orang bisa mengalihkan pandangannya dariku. Menurut pendapat temanku, aku memiliki fisik yang menawan. Muka tanpa bintik-bintik. Hidung mancung. Gaya rambut kekinian. Namun, semuanya seperti sirna bagi perempuan tersebut.
Perlakuan perempuan tersebut menjadi tanda tanya besar. Aku bersegera bertanya pada Deni, salah satu teman kerjaku.
“Kamu kenal perempuan yang duduk paling kiri tadi, Den?. Kalo iya, kenapa ya sikapnya banyak menunduk dibandingkan memperhatikanku memperkenalkan diri?”
Penjelasan Deni sedikit membuat hatiku tenang. Rasa suudzonku hilang. Tadinya aku berpikir bahwa ada rekan kerja yang tidak menyukaiku atau sejenis rekan kerja yang menganggapku saingannya. Ternyata perempuan tersebut memang hobi menundukkan pandangan terlebih lagi pada laki-laki.
0 Komentar