Cerita Sebelumnya: Fana
Berpikir, berpikir, dan berpikir adalah kegiatan seharian yang aku lakukan. Aku bertekad untuk mencari uang. Uang tidak mungkin menghampiriku, aku harus menjemputnya. Ada tiga jurus yang aku tempuh yaitu memporak-porandakan situs google, menelusuri iklan berita di Koran dan mencari informasi melalui grup-grup. Tidak penting pekerjaannya bergengsi atau tidak, yang terpenting pekerjaannya halal.
Mencari pekerjaan tidak semudah membalikkan adonan bakwan dari kuali. Aku belum menemukan satu tempat yang memiliki persyaratan tidak harus lulus dari universitas terlebih dahulu. Kepusinganku menjadi-jadi. Aku putuskan untuk jeda sejenak dan mendengarkan lagu khas dari daerah Akhir yang menggambarkan suasana hatiku.
Ay ya ya yasaman
Pecaknyo mudah tapi saro nian
Yasaman yasaman…
“Ay ya ya yasaman. Ada apa , An?,” tanya Akhir.
Sosok Akhir datang mengejutkan, hampir saja teh manis yang aku seduh mau keluar dari asalnya.
“Aku mau cari kerja.”
“Untuk apa?”
Alasan yang ku pakai adalah untuk modal nikah. Aku tidak ingin Akhir mengetahui persoalan sebenarnya.
“MasyaAllah An. Semoga Allah mudahkan langkahmu.”
Akhir menawarkan pekerjaan yang bisa digarap di rumah dan tentu bisa menghasilkan uang. Pekerjaan tersebut relevan denganku yaitu menulis opini. Setiap opini yang dikirimkan ke penerbit akan mendapatkan komisi apabila opini tersebut berhasil disetujui. Tanpa pikir panjang, aku segera mendaftar pada laman web.
***
Aku memiliki hobi bercerita dan juga mengeluarkan pendapat, termasuk berpendapat mengenai isu-isu terkini. Biasanya aku melakukan research terhadap jurnal dan teori untuk beropini agar opini yang dibuat tidak semata-mata mengeluarkan unek-unek untuk menjatuhkan orang lain. Aku harus menemukan bukti pendukung dalam mengeluarkan opini serta memberikan solusi di akhir kalimat. Setelah itu aku akan mengirim tulisanku melalui blog pribadi.
Ada beberapa orang yang menyukainya dan ada juga yang tidak suka. Begitulah hidup. Kita tidak bisa seutuhnya membuat orang suka kepada kita. Baik yang suka atau tidak, aku meresponnya sama. Ketika ada orang yang tidak menyukai karyaku, maka aku akan berusaha lebih giat lagi, memperhalus kata, dan memperkuat argumen dengan bukti pendukung. Aku menolak perasaan berkecil hati. Setiap sedang dilanda down, pesan cinta dari Pramoedya Ananta Toer selalu kutancapkan dalam hati.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
0 Komentar