Sebelumnya: Satu Pasang
Hujan deras membasahi bumi. Hari ini rezeki tumbuhan sangat berlimpah, bisa menyerap banyak air. Aku sedang duduk menunggu hujan reda di pelataran musola. Berkontemplasi menjadi pilihan yang tepat. Mulai bertanya mengenai keraguan akan banyak hal. Merenungkan isi kandungan surah yang dibacakan oleh Imam malam kemarin. Apa benar sesudah kesulitan ada kemudahan?. Keyakinanku satu per satu mengikis dengan janji-Nya. Aku merasa sudah rajin ibadah namun mendapatkan banyak masalah sementara orang yang terbilang malas beribadah justru mendapatkan kesenangan. Aku mengdeham. Pelik sekali hidup ini bila dipikirkan.
Mataku terpana melihat butiran air hujan hingga aku tidak sadar ada seseorang yang sudah duduk di sampingku. Ia menegurku.
“Mas jangan melamun.”
Aku kaget bukan main, hampir saja mau jatuh dari kursi kayu.
“Astaghfirullahuladzim, he’eh iya pak.”
Bapak tersebut bertanya apakah ada masalah. Aku spontan tersenyum lebar dan berkata tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menuntaskan rasa penasaranku yang menggebu.
“Apakah bapak tahu jawaban dari pertanyaan saya. Dimana keadilan Allah?”
“Saya takut salah dalam menerangkan. Izinkan saya berbagi sedikit saja,” jelas Bapak tersebut.
Ia menjelaskan bahwa ujian yang dihadirkan Allah Swt berbentuk dua, yaitu ujian saat kondisi senang dan ujian saat kondisi sulit. Keduanya memiliki takaran yang sama berupa hikmah di dalamnya.
“Dunia ini bersifat fana (sementara). Setiap insan akan merasakan dua kondisi tersebut. Bisa jadi sekarang kamu merasakan ujian dalam kondisi sulit dan minggu depan atau beberapa menit kemudian kamu diberikan ujian dalam kondisi senang. Keduanya tidak bersifat selamanya,” tambahnya.
Penjelasan bapak tersebut sedikit mentramkan hatiku yang sedang bergemuruh. Aku mulai yakin kondisi saat ini harus aku syukuri dan harus aku sikapi dengan sikap yang baik. Kepercayaanku pada janji Allah Swt mulai tumbuh kembali. Sungguh hidayah itu sangat indah. Bisa datang melalui perantara orang lain atau dicari sendiri.
Tidak terasa hujan sudah mulai berhenti. Aku pamit undur diri pada bapak tua.
“Terima kasih pak atas waktunya. Saya pamit dulu. Wasalamualaikum.”
Aku menelusuri perjalanan pulang dengan banyak pikiran. Membayangkan bagaimana beban yang sedang dihadapi orang tua. Pasti mereka sangat merasa terbebani oleh situasi saat ini. Persoalan ekonomi merupakan persoalan sensitif dalam rumah tangga. Banyak pasangan suami istri pisah ranjang karenanya. Ada yang memilih menerima keadaan dan bertahan. Ada juga yang justru memilih menyelesaikan keadaan dengan meninggalkan.
Ibu dan bapak termasuk dalam golongan pertama. Persoalan ekonomi bukan hal baru yang harus dihadapi. Beberapa kali keluarga kami dirundung pilu. Bapak gagal panen, sulit mencari nafkah dan makan dengan nasi serta sedikit garam agar memiliki rasa. Ibu tidak pernah protes kepada bapak apalagi membentak bapak. Ibu justru memberikan dukungan kepada bapak untuk bersabar karena semuanya hanyalah ujian semata.
Ibu dan bapak sangat merahasiakan apa pun masalah yang sedang melanda. Mereka lebih memilih berbincang di dalam kamar. Aku yang saat itu masih menduduki kursi SMA tidak kuat hati ingin meminta uang bayaran. Aku bisa saja menggerutu kepada ibu dan bapak. Namun, aku ingat kembali pesan kutbah waktu lalu.
“Jangan pernah membentak orang tua. Berkata “ah” saja kita tidak dianjurkan. Kita harus menghormati orang tua dan memuliakannya sebagaimana isi kandungan surah Al-Isra.”

0 Komentar