Baca sebelumnya: Komat-kamit
Tepat sampai masjid, adzan berkumandang. Kami menyimak adzan dengan seksama. Suaranya menggema menyinari hati-hati manusia yang mulai padam menghadapi persoalan hidup. Waktu salat menjadi waktu untuk mengistirahatkan diri dari perkara dunia dan kembali menjalankan perintah untuk beribadah.
“Ayo rapatkan shaf-nya,” pinta Imam Masjid.
Salat diakhiri dengan tahiyat akhir. Aku ingin segera pulang mengingat tugas pemberian dari dosenku belum satu pun aku selesaikan. Baru saja hendak berdiri, si Akhir memintaku untuk tetap duduk dan berdoa. Lima menit kemudian kami selesai menunaikan salat beserta doa.
Kami melanjutkan perjalanan pulang. Seperti biasanya, kami mengobrol untuk menikmati perjalanan. AKhir kembali membuka obrolan mengenai salat yang baru saja kami tunaikan. Ia mengujiku dengan mengajukan pertanyaan surah apa saja yang dibaca Imam tadi. Aku tidak mungkin lupa, baru beberapa menit itu terjadi, kecuali berbulan-bulan.
“Ad-Duha dan Al-Insyirah.”
“Seratus. Jawabanmu benar,” balas Akhir.
Firasatku berkata ada sesuatu yang Akhir ingin sampaikan. Ia tidak mungkin hanya mengajakku bermain teka-teki tanpa ada nilai yang disampaikan. Mulutnya kembali terbuka.
“Dua surah tadi penuh arti ya.”
Ia mulai bercerita bahwa kedua surah tersebut menunjukkan rasa sayang Allah SWT terhadap hamba-Nya. Surah Ad-Duha turun ketika Nabi Muhammad SAW dihujat oleh kaum kafir bahwa Allah SWT telah meninggalkannya dengan bukti wahyu belum turun lagi. Sementara itu, surah Al-Insyirah menceritakan magnet berarah positif, satu kesatuan. Allah SWT menghadirkan kesulitan senantiasa bersama kemudahan. Pada intinya, begitulah wujud cinta Allah SWT.
“Jadi menurutmu tidak ada kesulitan yang hadir tanpa ada kemudahan termasuk dalam tugas kuliah,” tanyaku.
“Iya. Tugas kita adalah berusaha karena aturan itu sudah pasti. Bersama kesulitan ada kemudahan,” jelas Akhir sambil merangkul bahuku.
Entah ada angin dari mana. Ia seakan tahu bahwa aku sedang menghadapi masalah. Bukan sekedar tugas kuliah, melainkan masalah yang lebih rumit. Mataku sudah mau berbinar, butir-butir air ingin keluar dari mata. Namun, tidak aku izinkan. Aku berpura-pura kelilipan karena debu.
***
Aku dan Akhir seperti satu kesatuan. Dimana ada Akhir, disana ada aku. Dimana ada aku, disana ada Akhir. Baru kemarin kami terpisah beberapa jam. Pukul 14.00 WIB mata kuliah selesai. Akhir memilih menuju perpustakaan sementara aku memilih pulang. Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan bantal guling.
Momenku bersama bantal guling harus terhenti ketika ada sebuah pesan bertuliskan “Nanti jika sudah renggang, telpon ibu ya.”. Aku langsung cek riwayat panggilan, ternyata ada 10 panggilan tidak terjawab sejak kemarin. Aku baru ingat notifikasi handphone aku bisukan dan baru hari ini dibunyikan. Tidak perlu menunggu lama. Aku segera menelpon ibu.
“Asalamualaikum bu, maaf handphone Andi kemarin silent. Ada 10 kali ibu menelpon, ada apa bu sepertinya sangat penting?”
Ibu membalas salam kemudian senyap.
“Halo bu, masih dengar suara Andi?”
“Iya, nak.”
Lima detik senyap. Ibu baru mengeluarkan suara.
“Andi...”
“Iya, bu?”
“Bulan ini ibu dan bapak belum bisa mengirimkan uang bulanan. Hasil panen kita gagal dan untuk saat ini hanya mengandalkan jualan keliling sayuran yang hasilnya hanya bisa mencukupi kebutuhan makan. Andi maafkan ibu dan bapak ya,” ungkap Ibu sambil terdengar menangis.

0 Komentar